B U M I
Wahana antariksa yang kami tumpangi ini mirip seperti kapsul penyelamat yang terdapat dalam berbagai film bertemakan luar angkasa karya Hollywood semacam Startrex atau Star Wars. Dari luar memang terlihat cukup canggih. Namun tak cukup luas pada bagian dalamnya yang hanya mampu diisi dengan sedikit tambahan peralatan sederhana saja.
Hanya aku, isteriku dan emak yang menjadi penumpang pesawat angkasa tersebut.
Sebelumnya, aku telah membuat permintaan kepada Tuhan bahwa aku ingin pergi dari surga, diberikan kesehatan, awet muda, kekuatan serta umur panjang, lalu dihidupkan lagi disebuah tempat yang memiliki sifat dan hukum seperti dalam kehidupan pertamaku dahulu. Merasakan susah-senang, sehat-sakit, sedih/kecewa-bahagia dan juga nikmatnya rasa bangga setelah pencapaian atas sebuah usaha, sampai kelak ketika sampai masanya kami dimatikan tanpa perlu dihidupkan kembali.
Tentu saja, aku juga meminta agar kami dibekali dengan sedikit ilmu/keahlian untuk mempertahankan kehidupan, juga segala – semua kenangan tentang kisah masa lalu kami sewaktu di dunia dan akhirat termasuk tentang nikmatnya surga dihapus bersih tanpa sisa dari ingatan kami sehingga kami dapat menjalani kehidupan sebagai manusia yang benar-benar baru di alam yang baru.
Sebagai konsekuensi dari permintaan itu, Tuhan menjanjikan bahwa aku tidak akan pernah bisa lagi menikmati kesenangan tak terbatas dalam surga. Tidak mengapa, kurasa semuanya layak dan sepadan, sebab setelah segala yang kualami, kini aku tidak lagi merasa butuh dengan pengalaman absurd macam akhirat itu.
Tentang Istriku yang kuajak denganku, aku bersyukur dia mahu. Ini karena sejak dahulu kala, dia adalah satu-satunya manusia yang paling aku kenal selain diriku. Dia terkadang menjengkelkan, tapi dia adalah yang paling bisa menyayangi dan mengerti diriku terlepas dari begitu banyak kekuranganku yang telah dia ketahui. Pun juga, dia adalah salah satu dari tiga wanita yang paling aku cinta semasa di dunia.
Sementara emak, alasan beliau ikut denganku hanya sederhana saja; beliau katanya sudah muak dengan kehidupan di surga.
Untuk terakhir kali, aku melihat sekilas area istana surgaku melalui jendela kapsul, pada halaman depannya yang banyak terdapat wahana permainan super ekstrem yang kuingat hambar tanpa sensasi saat aku bermain karena tidak ada lagi rasa takut, pada gulungan ombak dahsyat yang sering menengelamkan aku berjam-jam saat berselancar, pada gunung dan perbukitan salju yang telah jutaan kali menghempaskan tubuhku ke bebatuan saat bermain ski, pada belantara berisi hewan-hewan buas yang nyatanya tak pernah mampu meneror aku, atau pada kondisi suasana Bulan di halaman belakang yang hanya kugunakan untuk tiduran dikala bosan; karena seperti dalam ayunan.
Hingga ketika kapsul antariksa ini mulai lepas landas dan melesat cepat meninggalkan kota surga, mungkin baru dibeberapa detik cahaya, tiba-tiba kami semua merasakan ngantuk yang sangat dan segera tertidur pulas. Tak tahu pasti berapa lama perjalanan yang kami tempuh menuju sebuah tempat istimewa yang meskipun banyak berhias duka dan tantangan, namun juga berisi begitu banyak harapan, cinta serta kebahagiaan sejati.
Sebuah tempat maha indah, yang aku yakin pasti kelak pada saatnya nanti akan aku beri nama BUMI.
***


Komentar
Posting Komentar