S U R G A
Luarbiasa... Aku masih memejamkan mata dan telah begitu bahagia padahal baru mencium bau aromanya saja. Sedangkan kalbu kian syahdu mendengar iringan berbagai suara riuh tawa keceriaan; gemerisik serta gemericik alam yang bersetubuh dengan hembusan angin dan juga musik lembut berhias suhu-cuaca nan hangat namun teduh. Dan kondisi ini, mungkin jutaan kali berbanding terbalik dengan suasana neraka yang kejam mencekam.
"Bukalah
matamu tuan, jangan takut. Semua ini memang diperuntukkan bagi hamba
yang suci seperti Anda". Terdengar suara pelan dan sangat merdu
ditelingaku, lirih nyaris seperti berbisik.
Maka
aku tak mampu lagi menahan diri. Membuka mata dan segera terbelalak
menganga, kagum - takjub menyaksikan segala yang kini tampak nyata
dihadapan.

Ya, inilah SYURGA yang telah dijanjikan Tuhan untuk orang-orang beriman dan
dahulu sering diceritakan oleh para agamawan. Sebuah tempat laksana
alam khayal berisi lanskap tentang negeri fantasi nan indah, damai dan
makmur sentosa tanpa satupun kekurangan padanya.
"Subhanallah... Indahnya...." Seruku sambil tak putus bertasbih.
Hiruk
pikuk menyeruak. Canda ceria memenuhi udara yang diselingi dengan gelak
tawa renyah terbahak. Ku edarkan mata menyapu sekelilingku. Tampak
dihadapan, hamparan alam
yang laksana dunia khayal dalam lukisan, awan berwarna, bukit-bukit,
air terjun, sungai-sungai serta pepohonan yang dihiasi oleh beraneka
hewan menakjubkan yang keindahannya mungkin ratusan kali melebihi dari
yang ada di Bumi. Di berbagai sisi, ada
begitu banyak manusia dengan wajah-wajah cerah; tampan dan ayu dengan
usia sebaya, begitu bahagia berjalan berseliweran menikmati kegembiraan
dikelilingi para pasangannya. Sosok tubuh mereka sungguh
ideal-proposional mengenakan berbagai perhiasan mewah dan busana indah
yang didominasi warna putih, sementara diantara mereka, berseliweran
gadis-gadis dan pemuda rupawan yang membawa nampan berisi cawan-cawan
dengan beraneka jenis minuman.
Mendapati hal demikian, tiba-tiba
aku menjadi rendah diri dan segera terpatung seperti batu. Meski benar
sejak memasuki gerbang surga tadi aku sudah tidak telanjang lagi, namun
pakaian yang kukenakan ini hanya sekedarnya saja, tak sepenuhnya mampu
menutupi seluruh badanku yang masih kurus belum se-ideal mereka yang
disekitarku.
"Jangan melamun tuan, tempat ini bukan diciptakan untuk bermuram durja...".
Sebuah
suara syahdu kembali menyadarkan aku dari ketertegunan. Dua orang gadis
cantik dengan bola-bola matanya yang jernih jeli berbinar namun jalang
kini telah berdiri disamping dan memegangi kedua tanganku, sementara
tangan mereka yang lain menyodorkan cawan minuman ke bibirku,
Aku meneguknya tanpa ragu. Subhanalloh, teramat nikmat rasanya.
"Ayolah
ikut hamba, biarkan kami mendandani Anda tuan.." Ucap salah satu dari
mereka dengan tutur manja sembari menarik lembut tanganku.
Aku
tak kuasa menolak ketika gadis-gadis cantik; harum-wangi dan mengenakan
busana indah dari sutera yang kemudian kuyakini sebagai bidadari ini
menarik dan membawaku berjalan cukup jauh melewati berbagai mahakarya
yang indahnya tak terkata sampai akhirnya kami tiba disebuah bangunan
megah bergaya Arab yang dipenuhi ornamen-ornamen berhiaskan emas.
Melewati berbagai tempat menakjubkan didalam bangunan itu; seperti aula
megah, tempat pemandian mewah, ruang gaming, area gym, ruang keluarga,
ruang pesta-pora dan sebagainya. Melalui itu, para bidadari seperti
ingin memamerkan padaku betapa indah dan lengkapnya fasilitas di istana
ini.
Hingga ketika kami sampai di sebuah ruangan yang kuyakini sebagai kamar tidur
karena terdapat sebuah pembaringan besar yang elegan disana, aku kembali
dikejutkan oleh bentuk tubuh dan paras wajahku sendiri yang tiba-tiba
kini telah berubah gagah rupawan.
Saking drastisnya perubahan yang terjadi, saat
bercermin pada kaca-kaca besar yang tergantung disudut-sudut kamar, aku
bahkan nyaris tak mengenali diriku sendiri. Tak ayal, seketika saja
rasa percaya diri dalam diriku membuncah - membahana.
Aku
menoleh dan menatap kedua bidadari dengan tatapan singa yang segera
mereka balas dengan kerlingan menggoda. Dan meski pakaian sutra yang
mereka kenakan cukup longgar terjurai, nyatanya itu tetap tak sepenuhnya
mampu menyembunyikan warna kulit menawan serta bentuk tubuh mereka yang
indah mempesona. Terutama bagian dadanya yang montok; angkuh menyembul.
![]() |
| Isteri ketiga UAS (Fatimah) banyak dipuji secantik bidadari surga yang beliau nikahi setelah menceraikan isteri kedua (Mellya) yang ia katakan tidak bisa diatur (atau dengan kata lain UAS yang berilmu agama sangat tinggi dan getol mendakwahi jutaan manusia gagal mendidik isteri pertama dan keduanya, sebuah bukti bahwa membina rumah tangga memang bukanlah perkara mudah). Beritanya Disini |
"Ini istana siapa... dan benarkah kalian para bidadari yang telah dijanjikan Tuhan?" Tanyaku berusaha meyakinkan
"Ini
adalah istana Anda, dan ya tuan, kami ini memang para bidadari yang
diciptakan Tuhan, sepenuhnya untuk melayani segala kebutuhan dan
keinginan Anda disini, dan masih banyak dari kami yang sebentar lagi
juga akan sampai disini". Jawab salah satu bidadari seraya lagi-lagi
diikuti senyuman menggoda.
"Ya tuan, apapun it..uhhh.."
Belum
selesai mereka berucap, aku segera menyambar tangan kedua bidadari
tersebut, menarik dan mengulum bibir mereka bergantian lalu
menghempaskan tubuh-tubuh indah itu ke pembaringan. Sedetik kemudian,
aku telah ganas menyerang di atas ranjang. Melampiaskan bermiliyar
kemarahan dan kekesalanku kepada neraka.
"Ouhh... tunggu tuan, tapi ini belum waktunya... Jangan buat Tuhan marah padamu..!"
Seru
bidadari sambil berusaha meronta memberikan penolakan. Bersamaan mereka
mendorongku menjauh. Aku terhenyak dan terdiam, seiring dengan hasratku
yang seketika padam menghilang.
"Astaghfirullah, maafkan hamba ya Tuhan..."
"Bersabarlah
tuan... Anda jangan kuatir, karena akan ada banyak kesenangan yang tak
terbatas waktu untuk itu.." Bisik bidadari dibelakang telingaku _ketika
kulirik_ sambil merapikan pakaian dan memijat lembut punggungku.
"Maafkanlah... Aku telah melalui saat-saat yang teramat buruk," Kataku sambil menunduk.
"Ya
tuan, kami memahami itu, dan kami berjanji akan menyembuhkan segala
trauma dan kesedihanmu. Namun kini, sebelum semua kesenangan itu
sepenuhnya milikmu, hal paling penting yang harus Anda lakukan adalah
menemui seorang yang paling berjasa atas kebebasanmu dan berterima
kasihlah secara langsung kepadanya".
Mendengar ucapan bidadari itu rasa penasaranku pada 'seseorang' itu datang lagi dan aku-pun kembali bersemangat...
"Oh, kalian sungguh benar! Dan kalau boleh tahu siapakah dia yang telah menyelamatkan aku itu?"
"Biarkan kami merapikan Anda terlebih dahulu, kemudian ayo kita pergi dan tuan temuilah sendiri".
Berbeda dengan yang kumasuki sewaktu baru tiba disini,
Istana
yang satu ini cukup unik, bergaya joglo jawa namun lebih luas serta
indah luarbiasa karena banyak dihiasi emas permata dan berbagai ornamen dari
jaman kerajaan jawa di berbagai bagiannya. Disaat aku terus melangkah
masuk dengan masih diliputi sepenuhnya oleh rasa penasaran serta debaran
dalam dada dan kini telah sampai di aula; berpapasan dengan
wanita-wanita yang cantiknya tak terkira, dua bidadari pelayanku tadi;
mereka memilih menunggu di pintu gerbang masuk istana ini.
Sampai
di aula kedua, aku segera berhenti mematung disitu, ditengah altarnya,
tepat dibawah hiasan lentera yang terbuat dari kaca mutiara. Tak
seberapa jauh didepanku, seorang wanita bermahkota yang anggun dengan
wajah cerah berkharisma yang usianya juga sebaya denganku, duduk
disebuah kursi paling megah mirip singgasana diruangan tersebut;
mengesankan layaknya ia seorang ratu. Sedangkan, dari dalam sebuah kamar
berpintu tertutup yang terletak agak jauh dibelakang wanita tersebut,
sayup kudengar suara-suara lenguhan dan dengusan yang diselingi tawa-tawa kecil yang aneh.
Wanita
dihadapanku ini.... Ia menatapku bersama raut muka dingin dan ekpresi
kebahagian yang tipis. Wajahnya cantik, namun seperti menyiratkan
perasaan kelam yang jauh dipendam.
"Kemarilah
nak, aku sudah menunggumu sejak bermiliyar tahun yang lalu..." Katanya
kemudian sembari melambaikan tangan padaku. Hal mana membuatku malah
terpatung ragu. Mendengar kalimatnya aku jadi bertanya-tanya, siapakah
dia dan mengapa ia seperti begitu mengenalku, dan kata-katanya itu mirip
bahasa dari seorang dewasa kepada anak-anak saja, padahal kan... kami
sebaya.
"Jangan
ragu nak, aku ini emakmu, wanita yang semasa di dunia dulu yang
melahirkan dan merawatmu hingga engkau dewasa.." Kata wanita itu lagi
sembari mulai tersenyum dengan tatapan cerah berbinar.
"Emak
?!" Suaraku tercekat dan bagai tercekik di tenggorokan mendengar
pengakuannya. Wanita jelita penuh wibawa yang sebaya denganku ini
ternyata emakku? Subhanalloh... Betapa besar kuasanyaNya... Rasanya sungguh tak percaya, tapi...... bukankah ini surga?
Segera saja aku berlari menghambur memeluknya,
Mulanya
cukup canggung mengingat kesebayaan usia kami. Namun itu tak
berlangsung lama, sebab kini aku telah terisak dahsyat di pangkuan dia
yang dulu paling aku kasihi namun juga terlalu banyak aku sakiti.
"Emak
maafkan aku, saat didunia dulu aku terlalu sering menyusahkanmu...
Mengabaikan pengajaran-pengajaran baik yang engkau berikan"
Kataku
sambil terus terisak dan semakin kuat memeluknya. Wajahku yang kini
telah lembab, kuat kubenamkan ke pangkuan emak yang harum-wangi.
Beliau tak segera menyahut dan hanya ikut menangis seraya mengusap kuat kepalaku.
Aku mendongak, menatap wajahnya yang berkilau mempesona...
"Jadi emak yang telah membebaskan aku?"
"Iya
nak, setiap waktu sejak miliyar-an tahun yang lalu aku telah memohon
kepada Tuhan untuk kebebasanmu. Sebab aku sungguh tidak bahagia
sekalipun dengan segala kemewahan ini jika engkau masih saja disiksa di
neraka. Engkau adalah buah hati emak.... kesayangan emak. Alhamdulillah, hari ini Tuhan sudi mendengar do'aku dan mengabulkannya...Ayo kita bersyukur memujiNya anakku....".
Emak
bangkit dari singgasananya dan segera bersujud syukur diikuti olehku
dan dua bidadari pelayannya yang sejak tadi hanya diam membisu.
Setelah
itu kami-pun kembali duduk berhadapan; melepas rindu dengan ngobrol
ngalor ngidul tentang apa saja sembari menikmati suguhan makanan dan
buah-buahan istimewa di atas meja.
Cukup
lama, hingga sampai di suatu detik ketika raut wajah emak yang semula
cerah mempesona seketika berubah muram saat aku bertanya tentang
seseorang...
"Bapak dimana mak? Aku ingin sekali bertemu dan berterima kasih pada beliau".
"Oh..eehh... Bb..beliau ada, itu didalam nak, tt...tttapi beliau sekarang sedang sibuk..." Jawab emak tiba-tiba tergugup.
"Sibuk?
Memangnya beliau sibuk ngapain mak? Aku ingin segera berterima kasih
sebab atas pengajaran beliau yang keras tentang Islam, sekarang aku tak
bernasib seperti orang-orang kafir itu yang kekal tersiksa di neraka".
"I..iiya nak, kau boleh bertemu bapakmu, tapi nanti saja ya.. Sekarang bapakmu sedang sibuk..."
Ah,
bukankah ini di Surga, sibuk apa beliau memangnya... Masak di surga
orang masih harus bekerja.... Enteng fikirku saat itu sambil bangkit
berdiri dan melangkah cepat menuju ruangan tertutup di belakang
singgasana emak yang sejak tadi sayup kudengar suara-suara aneh seperti
keributan kecil.
Tak kuhiraukan emak yang seperti berusaha menahanku tetapi luput.
Perlahan aku membuka pintu yang ternyata tidak dikunci tersebut,
Dan yang terjadi selanjutnya, justru membuatku terpukau-terpana dengan kedua kaki bergetar menyaksikan pemandangan didepan mata.
Tampak
dihadapanku, bapak sedang asyik masyuk, dikerubuti oleh puluhan
bidadari nyaris telanjang di atas sebuah pembaringan yang sangat besar.
Saking "sibuk"nya mereka semua sampai tidak sadar atas kehadiranku yang
kini berdiri terpatung dipintu.
Aku
masih terhening, teringat kembali tentang ayat Qur'an surah Yasin ayat
55 yang menyebut bahwa pada hari ini penduduk surga sedang
bersenang-senang didalam kesibukannya. Yang mana dalam tafsir Jalalain, 'kesibukan'
tersebut diartikan sebagai memecah keperawanan para gadis. Dan Bapakku
tersebut, aku seperti tak lagi mengenalinya. Sebab sekarang beliau
adalah seorang pemuda sepantaran denganku, gagah tampan dan berbadan
kekar. Tak ada lagi rambut kriting acakkadut yang dahulu merupakan ciri
khas beliau, juga bibir agak tonggos dan mimik wajah kolotnya yang dulu
selalu menjengkelkan tetapi selalu kurindukan.
Bapakku, sekarang entah beliau siapa dan macam apa kelakuannya.
Muncul
kini dalam benakku sebuah perasaan seperti muak yang tiba-tiba
membuatku enggan bertemu dengannya dan dengan siapa saja yang di dunia
dulu pernah kukenal dihidupku. Termasuk dengan anak-anakku... juga
isteriku. Ya, terutama istriku, seketika fikiranku menjadi geram dan
kotor tentangnya. Yang aku tahu dia dulu rajin ibadah dan tetap
menghormati serta menyayangiku meskipun sholatku terkadang bolong-bolong.
Tentunya dia sudah lebih dulu di surga, berjarak miliyaran tahun
denganku, dan setelah melihat pemandangan tentang bapak, hatiku seketika
bergejolak; aku jadi bertanya-tanya apa saja yang sudah istriku lakukan
selama ini disini dalam periode waktu selama itu.
Lalu
tanpa mengucap sepatahpun kata, aku melangkah mundur sambil menutup
pintu perlahan. Kemudian berjalan kembali ke arah emak yang masih hanya
diam, duduk tertunduk. Aku memeluknya erat, dan mulai mencoba ikut
merasakan segala yang sedang beliau rasakan. Beberapa menit berlalu dan
kami masih saling bisu. Disaat ini, aku tak ingin membisikinya tentang
apapun, sebab aku tahu, beliau tentu lebih tahu tentang situasi yang ada
disini.
***
![]() |
| Istana tempat tinggal seorang temanku yang semasa di dunia dulu terbiasa sholat malam. Ia mati saat jihad; melakukan bom bunuh diri di sebuah gereja membunuh puluhan orang dewasa dan anak-anak. |
Demikianlah, akhirnya aku terangkat dari Neraka laknat dan menjadi penduduk Syurga yang penuh dengan berjuta nikmat.
Masa
awal disini, yang kulakukan adalah merombak sepenuhnya seisi istana
juga seluruh area yang kutinggali. Dari istana yang awalnya bergaya Arab
klasik dikelilingi gurun dengan oase-oase menyejukkan, kurubah menjadi
kastil kuno bergaya Eropa dengan
fasilitas modern. Dihalaman depan ada lapangan golf, garasi berbagai
jenis mobil, sebuah kebun binatang yang berisi berbagai anakan hewan
purba termasuk T-rex serta tempat bermain yang luas lengkap dengan
wahana rollercoaster-nya yang selama di dunia dahulu hanya kulihat di
negeri orang kafir.
Dihalaman
samping kanan adalah lanscape pemandangan wisata pantai dan laut
berombak dahsyat dengan suhu udara hangat cenderung panas tempatku berselancar,
ohya, kapal pesiar mewahku terparkir disitu. Halaman sebelah kiri
kujadikan sebagai hutan kecil dengan bukit-pegunungan bersalju yang
udaranya dingin membeku tempat aku berburu dan bermain ski layaknya
orang-orang kaya di Bumi. Sementara halaman belakang kubuat seperti
keadaan dipermukaan bulan yang warna tanahnya bertekstur kelam dan minim
gravitasi, yang bila bosan, seluruh pemandangan ini akan segera kutata
ulang dalam sekejap mata.... Tinggal Cling ! saja....
![]() |
| Istana
temanku yang lain, yang semasa di dunia sholatnya enggak pernah
bolong-bolong macam aku. Dia sedang di dalam, 'sibuk' dengan para
bidadari pelayannya. |
Dan yang tak kalah penting,
disini...
walaupun aku tenggelam berjam-jam digulung ombak besar saat
berselancar.... jatuh terpelanting puluhan meter dan menghantam batu
ketika bermain ski, atau mendapatkan luka tercabik / brodol parah karena
cakaran harimau dan diseruduk badak sewaktu berburu, didalam surga ini
aku tidak bisa mati. Aku abadi dan perkasa layaknya Dewa.
Ya, namanya
juga di surga, segala luka bisa sembuh dalam sekejap mata,
Tinggal Cling! saja.
Terdengar
absurd memang, tapi itulah kenyataannya, karena ini surga; semua
hukumnya sudah template/baku dan suasananya bisa dirubah dengan mudah
sesuai keinginan kita, suka-suka kita. Tidak makan seribu tahunpun kita
tidak akan mati. Oleh sebab penduduk surga tidak mengenal sakit apalagi
mati.
Kemudian
aktifitasku lainnya hanyalah bergembira, bermain game, saling
bersilaturahmi dengan penduduk surga, bercengkerama dengan hewan-hewan
indah, bersafari ketempat-tempat menakjubkan, hingga yang paling menyita
waktu adalah 'kesibukan' bercinta dengan para bidadari Syurga yang
selalu perawan.
Bagaimana tidak menyita waktu, bahkan ereksinya saja bisa sampai 70 tahun. Bisa dibayangkan... kalau ereksinya saja mampu selama itu apalagi durasi bercintanya. Dalam salah satu hadits hasan dikatakan bahwa dalam sehari seorang lelaki penduduk surga mampu bersetubuh hingga seratus kali.
***
![]() |
| Istana teman medsosku yang semasa di dunia dulu selalu rajin mengikuti demonstrasi membela agama |
Namun begitulah,
setelah
bertrilun-triliun biliun milyar juta tahun disini, sisa-sisa sisi ke-manusiaanku
mulai menyadari tentang adanya rasa ketidakpuasan yang tak pernah
tercukupi, hawa kerakusan, kekosongan jiwa serta hal-hal semu yang mengusik.
Seketika, aku merasa didamparkan disebuah dunia tanpa makna yang akhirnya mengkandaskan diriku dalam ketiadaan diri yang ekstrem.
Memang
benar, disini kita boleh minta apa saja, tapi bukan berarti itu akan
selalu dikabulkan, sebab tempat ini ternyata juga mempunyai hukum dan
terikat dengan aturan tersendiri.
Seperti
misalnya ketika aku meminta semanis Zack Efron, segagah David Beckam dan seganteng Tom
Cruise namun dalam versi yang banyak bulu badan, minta itu dibolehkan
tapi tidak dikabulkan. Karena sudah nash-nya, penduduk surga tidak berbulu.
Atau ketika aku meminta wanita cinta pertamaku yang
semasa didunia dahulu telah membuat hidupku tak menentu agar dijadikan isteri/budakku,
itu dikabulkan tapi tentu saja kemudian kutahu bahwa yang dihadirkan adalah bidadari yang
diserupakan dengannya, karena dia yang asli - yang selalu membuatku bahagia hanya dengan memandang wajah dengan make-up sederhananya, yang dengan mudah mampu membuatku gila dan putusasa hanya dengan tingkah marahnya - pastinya juga sedang
menjalani garis takdirnya sendiri.
Atau ketika aku meminta anak-anakku
dihadirkan dalam fisik 3 atau 4 tahun usianya; yang diumur itu segala
apa yang dilakukannya (bahkan ketika mereka mengencingiku) bagiku adalah
kebahagiaan semata, ini juga tak dimungkinkan.
Atau ketika aku meminta
dan diberikan gabungan antara mobil Pajero sport, VW, Mercy dan Ferrari,
namun ketika telah dengan bangga aku membawanya berkeliling di kota
Surga, lah aku masih kalah gengsi, sebab nyatanya tetanggaku malah punya mobil gabungan dari jenis
Optimus Prime dan Megatron. Jadi semacam mobil truk keren yang bisa jadi
robot dan bisa terbang macam jet tempur.
Atau ketika aku meminta intan
berlian - harta emas perhiasan mutiara yang berlimpah bergudang-gudang,
itu memang dikabulkan. Tapi percuma saja karena benda-benda tersebut tak
lagi berharga disini, sebab tidak ada lagi yang mau membeli karena
semua orang juga bisa memilikinya tanpa perlu bersusah payah.
Aku
mempunyai dua istri dan puluhan wanita tercantik, tapi saat sampai pada
satu titik tertentu, aku merasa itu belum cukup bagiku. Karena aku tahu
masih ada bidadari yang lebih cantik dari yang tercantik di
surga ini, namanya Ainul Mardhiah,
dan sayangnya dia bukan diperuntukkan bagiku, karena dahulu aku bukan
pejuang Islam yang mati syahid. Sehingganya, didalam surga ini, segala
harapan dan penasaran terhadap Ainul Mardhiah tersebut hanya bisa
kupendam dan menjadi keinginan yang tak pernah kesampaian.
![]() |
| Ilustrasi dek 'Ainul Mardiah |
Singkatnya,
karena ditempat ini tidak ada lagi kesulitan, tantangan atau persaingan
maka otomatis tidak ada lagi yang namanya kepuasan apalagi kebanggaan.
Yang
pada akhirnya kehidupan kita hanya bermuara pada ketiadaan keinginan
dan harapan, karena tidak ada lagi yang penting untuk diraih - tidak ada
lagi yang layak diperjuangkan sebab semua yang kita butuhkan akan
terwujud hanya dalam sekejab mata. Tinggal Cling! saja.
Terlebih jika teringat bagaimana dahulu saat pertama kali kita mencintai seorang gadis...
Ketika
itu ada rasa penasaran, kerinduan membuncah, kebingungan, debaran dalam
dada, harapan mulia atas cintanya atau hasrat kotor yang takut akan
dosa, serta berbagai rasa aneh yang nikmat menggoda. Disini, perasaan-perasaan itu sudah tidak ada lagi karena sekali kita
menginginkan seorang perempuan, maka ia akan segera menanggalkan
pakaian.
Ah brengseknya,
akhir-akhir
ini aku sangat merindukannya; kangen dengan perasaan-perasaan gila
tersebut. Bagaimana ribetnya hati kita saat hasrat dan kehendak
berkonflik dengan perasaan berdosa. Karena yang kuingat, hal-hal itu
sedemikian nikmat.
Bahkan,
memecah keperawanan para bidadari yang pada mulanya adalah suatu
kenikmatan tak terperi, setelah bermilyar-milyar triliun biliun
quadraliun juta tahun dan ku tahu akan terus selalu begitu karena ini
berlaku selamanya - tak terbatas masa, alih-alih merupakan kenikmatan,
bagiku hal itu kini malah lebih mirip sebuah siksaan abadi.
***
Hingga
akhirnya tibalah aku disuatu masa ketika diri ini mampu mengadu di
hadapan Tuhan dengan permintaanku yang paling ekstrim dan paripurna.
Dimana kugadaikan seluruh jaminan keabadian dan terkabulnya segala
keinginan hanya dengan satu permintaan itu.
*****
selanjutnya;








Komentar
Posting Komentar