S U R G A

Luarbiasa... Aku masih memejamkan mata dan telah begitu bahagia padahal baru mencium bau aromanya saja. Sedangkan kalbu kian syahdu mendengar iringan berbagai suara riuh tawa keceriaan; gemerisik serta gemericik alam yang bersetubuh dengan hembusan angin dan juga musik lembut berhias suhu-cuaca nan hangat namun teduh. Dan kondisi ini, mungkin jutaan kali berbanding terbalik dengan suasana neraka yang kejam mencekam.

"Bukalah matamu tuan, jangan takut. Semua ini memang diperuntukkan bagi hamba yang suci seperti Anda". Terdengar suara pelan dan sangat merdu ditelingaku, lirih nyaris seperti berbisik.
Maka aku tak mampu lagi menahan diri. Membuka mata dan segera terbelalak menganga, kagum - takjub menyaksikan segala yang kini tampak nyata dihadapan.
 

Ya, inilah SYURGA yang telah dijanjikan Tuhan untuk orang-orang beriman dan dahulu sering diceritakan oleh para agamawan. Sebuah tempat laksana alam khayal berisi lanskap tentang negeri fantasi nan indah, damai dan makmur sentosa tanpa satupun kekurangan padanya.
"Subhanallah... Indahnya...." Seruku sambil tak putus bertasbih.
 
Hiruk pikuk menyeruak. Canda ceria memenuhi udara yang diselingi dengan gelak tawa renyah terbahak. Ku edarkan mata menyapu sekelilingku. Tampak dihadapan, hamparan alam yang laksana dunia khayal dalam lukisan, awan berwarna, bukit-bukit, air terjun, sungai-sungai serta pepohonan yang dihiasi oleh beraneka hewan menakjubkan yang keindahannya mungkin ratusan kali melebihi dari yang ada di Bumi. Di berbagai sisi, ada begitu banyak manusia dengan wajah-wajah cerah; tampan dan ayu dengan usia sebaya, begitu bahagia berjalan berseliweran menikmati kegembiraan dikelilingi para pasangannya. Sosok tubuh mereka sungguh ideal-proposional mengenakan berbagai perhiasan mewah dan busana indah yang didominasi warna putih, sementara diantara mereka, berseliweran gadis-gadis dan pemuda rupawan yang membawa nampan berisi cawan-cawan dengan beraneka jenis minuman.
 

Mendapati hal demikian, tiba-tiba aku menjadi rendah diri dan segera terpatung seperti batu. Meski benar sejak memasuki gerbang surga tadi aku sudah tidak telanjang lagi, namun pakaian yang kukenakan ini hanya sekedarnya saja, tak sepenuhnya mampu menutupi seluruh badanku yang masih kurus belum se-ideal mereka yang disekitarku.

"Jangan melamun tuan, tempat ini bukan diciptakan untuk bermuram durja...".
Sebuah suara syahdu kembali menyadarkan aku dari ketertegunan. Dua orang gadis cantik dengan bola-bola matanya yang jernih jeli berbinar namun jalang kini telah berdiri disamping dan memegangi kedua tanganku, sementara tangan mereka yang lain menyodorkan cawan minuman ke bibirku,
Aku meneguknya tanpa ragu. Subhanalloh, teramat nikmat rasanya.
"Ayolah ikut hamba, biarkan kami mendandani Anda tuan.." Ucap salah satu dari mereka dengan tutur manja sembari menarik lembut tanganku.
Aku tak kuasa menolak ketika gadis-gadis cantik; harum-wangi dan mengenakan busana indah dari sutera yang kemudian kuyakini sebagai bidadari ini menarik dan membawaku berjalan cukup jauh melewati berbagai mahakarya yang indahnya tak terkata sampai akhirnya kami tiba disebuah bangunan megah bergaya Arab yang dipenuhi ornamen-ornamen berhiaskan emas. Melewati berbagai tempat menakjubkan didalam bangunan itu; seperti aula megah, tempat pemandian mewah, ruang gaming, area gym, ruang keluarga, ruang pesta-pora dan sebagainya. Melalui itu, para bidadari seperti ingin memamerkan padaku betapa indah dan lengkapnya fasilitas di istana ini.

Hingga ketika kami sampai di sebuah ruangan yang kuyakini sebagai kamar tidur karena terdapat sebuah pembaringan besar yang elegan disana, aku kembali dikejutkan oleh bentuk tubuh dan paras wajahku sendiri yang tiba-tiba kini telah berubah gagah rupawan.
Saking drastisnya perubahan yang terjadi, saat bercermin pada kaca-kaca besar yang tergantung disudut-sudut kamar, aku bahkan nyaris tak mengenali diriku sendiri. Tak ayal, seketika saja rasa percaya diri dalam diriku membuncah - membahana.
Aku menoleh dan menatap kedua bidadari dengan tatapan singa yang segera mereka balas dengan kerlingan menggoda. Dan meski pakaian sutra yang mereka kenakan cukup longgar terjurai, nyatanya itu tetap tak sepenuhnya mampu menyembunyikan warna kulit menawan serta bentuk tubuh mereka yang indah mempesona. Terutama bagian dadanya yang montok; angkuh menyembul.

Isteri ketiga UAS (Fatimah) banyak dipuji secantik bidadari surga yang beliau nikahi setelah menceraikan isteri kedua (Mellya) yang ia katakan tidak bisa diatur (atau dengan kata lain UAS yang berilmu agama sangat tinggi dan getol mendakwahi jutaan manusia gagal mendidik isteri pertama dan keduanya, sebuah bukti bahwa membina rumah tangga memang bukanlah perkara mudah). Beritanya Disini

"Ini istana siapa... dan benarkah kalian para bidadari yang telah dijanjikan Tuhan?" Tanyaku berusaha meyakinkan
"Ini adalah istana Anda, dan ya tuan, kami ini memang para bidadari yang diciptakan Tuhan, sepenuhnya untuk melayani segala kebutuhan dan keinginan Anda disini, dan masih banyak dari kami yang sebentar lagi juga akan sampai disini". Jawab salah satu bidadari seraya lagi-lagi diikuti senyuman menggoda.

"Hmmm.... segala keinginanku...? Apapun itu?" Tanyaku lagi kali ini sambil berjalan berputar mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Berusaha memastikan bahwa di kamar itu memang hanya ada kami bertiga.
"Ya tuan, apapun it..uhhh.."
Belum selesai mereka berucap, aku segera menyambar tangan kedua bidadari tersebut, menarik dan mengulum bibir mereka bergantian lalu menghempaskan tubuh-tubuh indah itu ke pembaringan. Sedetik kemudian, aku telah ganas menyerang di atas ranjang. Melampiaskan bermiliyar kemarahan dan kekesalanku kepada neraka.
"Ouhh... tunggu tuan, tapi ini belum waktunya... Jangan buat Tuhan marah padamu..!"
Seru bidadari sambil berusaha meronta memberikan penolakan. Bersamaan mereka mendorongku menjauh. Aku terhenyak dan terdiam, seiring dengan hasratku yang seketika padam menghilang.
"Astaghfirullah, maafkan hamba ya Tuhan..."

"Bersabarlah tuan... Anda jangan kuatir, karena akan ada banyak kesenangan yang tak terbatas waktu untuk itu.." Bisik bidadari dibelakang telingaku _ketika kulirik_ sambil merapikan pakaian dan memijat lembut punggungku.
"Maafkanlah... Aku telah melalui saat-saat yang teramat buruk," Kataku sambil menunduk.
"Ya tuan, kami memahami itu, dan kami berjanji akan menyembuhkan segala trauma dan kesedihanmu. Namun kini, sebelum semua kesenangan itu sepenuhnya milikmu, hal paling penting yang harus Anda lakukan adalah menemui seorang yang paling berjasa atas kebebasanmu dan berterima kasihlah secara langsung kepadanya".
 
Mendengar ucapan bidadari itu rasa penasaranku pada 'seseorang' itu datang lagi dan aku-pun kembali bersemangat...
"Oh, kalian sungguh benar! Dan kalau boleh tahu siapakah dia yang telah menyelamatkan aku itu?"
"Biarkan kami merapikan Anda terlebih dahulu, kemudian ayo kita pergi dan tuan temuilah sendiri".

***

Berbeda dengan yang kumasuki sewaktu baru tiba disini,
Istana yang satu ini cukup unik, bergaya joglo jawa namun lebih luas serta indah luarbiasa karena banyak dihiasi emas permata dan berbagai ornamen dari jaman kerajaan jawa di berbagai bagiannya. Disaat aku terus melangkah masuk dengan masih diliputi sepenuhnya oleh rasa penasaran serta debaran dalam dada dan kini telah sampai di aula; berpapasan dengan wanita-wanita yang cantiknya tak terkira, dua bidadari pelayanku tadi; mereka memilih menunggu di pintu gerbang masuk istana ini.

Sampai di aula kedua, aku segera berhenti mematung disitu, ditengah altarnya, tepat dibawah hiasan lentera yang terbuat dari kaca mutiara. Tak seberapa jauh didepanku, seorang wanita bermahkota yang anggun dengan wajah cerah berkharisma yang usianya juga sebaya denganku, duduk disebuah kursi paling megah mirip singgasana diruangan tersebut; mengesankan layaknya ia seorang ratu. Sedangkan, dari dalam sebuah kamar berpintu tertutup yang terletak agak jauh dibelakang wanita tersebut, sayup kudengar suara-suara lenguhan dan dengusan yang diselingi tawa-tawa kecil yang aneh.
 
Wanita dihadapanku ini.... Ia menatapku bersama raut muka dingin dan ekpresi kebahagian yang tipis. Wajahnya cantik, namun seperti menyiratkan perasaan kelam yang jauh dipendam.
 
"Kemarilah nak, aku sudah menunggumu sejak bermiliyar tahun yang lalu..." Katanya kemudian sembari melambaikan tangan padaku. Hal mana membuatku malah terpatung ragu. Mendengar kalimatnya aku jadi bertanya-tanya, siapakah dia dan mengapa ia seperti begitu mengenalku, dan kata-katanya itu mirip bahasa dari seorang dewasa kepada anak-anak saja, padahal kan... kami sebaya.

"Jangan ragu nak, aku ini emakmu, wanita yang semasa di dunia dulu yang melahirkan dan merawatmu hingga engkau dewasa.." Kata wanita itu lagi sembari mulai tersenyum dengan tatapan cerah berbinar.
"Emak ?!" Suaraku tercekat dan bagai tercekik di tenggorokan mendengar pengakuannya. Wanita jelita penuh wibawa yang sebaya denganku ini ternyata emakku? Subhanalloh... Betapa besar kuasanyaNya... Rasanya sungguh tak percaya, tapi...... bukankah ini surga?
Segera saja aku berlari menghambur memeluknya, 
Mulanya cukup canggung mengingat kesebayaan usia kami. Namun itu tak berlangsung lama, sebab kini aku telah terisak dahsyat di pangkuan dia yang dulu paling aku kasihi namun juga terlalu banyak aku sakiti.
"Emak maafkan aku, saat didunia dulu aku terlalu sering menyusahkanmu... Mengabaikan pengajaran-pengajaran baik yang engkau berikan"
Kataku sambil terus terisak dan semakin kuat memeluknya. Wajahku yang kini telah lembab, kuat kubenamkan ke pangkuan emak yang harum-wangi.
Beliau tak segera menyahut dan hanya ikut menangis seraya mengusap kuat kepalaku.
Aku mendongak, menatap wajahnya yang berkilau mempesona...

"Jadi emak yang telah membebaskan aku?"

"Iya nak, setiap waktu sejak miliyar-an tahun yang lalu aku telah memohon kepada Tuhan untuk kebebasanmu. Sebab aku sungguh tidak bahagia sekalipun dengan segala kemewahan ini jika engkau masih saja disiksa di neraka. Engkau adalah buah hati emak.... kesayangan emak. Alhamdulillah, hari ini Tuhan sudi mendengar do'aku dan mengabulkannya...Ayo kita bersyukur memujiNya anakku....".
Emak bangkit dari singgasananya dan segera bersujud syukur diikuti olehku dan dua bidadari pelayannya yang sejak tadi hanya diam membisu.
Setelah itu kami-pun kembali duduk berhadapan; melepas rindu dengan ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja sembari menikmati suguhan makanan dan buah-buahan istimewa di atas meja.
Cukup lama, hingga sampai di suatu detik ketika raut wajah emak yang semula cerah mempesona seketika berubah muram saat aku bertanya tentang seseorang...
"Bapak dimana mak? Aku ingin sekali bertemu dan berterima kasih pada beliau".
"Oh..eehh... Bb..beliau ada, itu didalam nak, tt...tttapi beliau sekarang sedang sibuk..." Jawab emak tiba-tiba tergugup.
"Sibuk? Memangnya beliau sibuk ngapain mak? Aku ingin segera berterima kasih sebab atas pengajaran beliau yang keras tentang Islam, sekarang aku tak bernasib seperti orang-orang kafir itu yang kekal tersiksa di neraka".
"I..iiya nak, kau boleh bertemu bapakmu, tapi nanti saja ya.. Sekarang bapakmu sedang sibuk..."

Ah, bukankah ini di Surga, sibuk apa beliau memangnya... Masak di surga orang masih harus bekerja.... Enteng fikirku saat itu sambil bangkit berdiri dan melangkah cepat menuju ruangan tertutup di belakang singgasana emak yang sejak tadi sayup kudengar suara-suara aneh seperti keributan kecil.
Tak kuhiraukan emak yang seperti berusaha menahanku tetapi luput.
Perlahan aku membuka pintu yang ternyata tidak dikunci tersebut,

Dan yang terjadi selanjutnya, justru membuatku terpukau-terpana dengan kedua kaki bergetar menyaksikan pemandangan didepan mata.
Tampak dihadapanku, bapak sedang asyik masyuk, dikerubuti oleh puluhan bidadari nyaris telanjang di atas sebuah pembaringan yang sangat besar. Saking "sibuk"nya mereka semua sampai tidak sadar atas kehadiranku yang kini berdiri terpatung dipintu.
Aku masih terhening, teringat kembali tentang ayat Qur'an surah Yasin ayat 55 yang menyebut bahwa pada hari ini penduduk surga sedang bersenang-senang didalam kesibukannya. Yang mana dalam tafsir Jalalain, 'kesibukan' tersebut diartikan sebagai memecah keperawanan para gadis. Dan Bapakku tersebut, aku seperti tak lagi mengenalinya. Sebab sekarang beliau adalah seorang pemuda sepantaran denganku, gagah tampan dan berbadan kekar. Tak ada lagi rambut kriting acakkadut yang dahulu merupakan ciri khas beliau, juga bibir agak tonggos dan mimik wajah kolotnya yang dulu selalu menjengkelkan tetapi selalu kurindukan.

Bapakku, sekarang entah beliau siapa dan macam apa kelakuannya. 
 
Muncul kini dalam benakku sebuah perasaan seperti muak yang tiba-tiba membuatku enggan bertemu dengannya dan dengan siapa saja yang di dunia dulu pernah kukenal dihidupku. Termasuk dengan anak-anakku... juga isteriku. Ya, terutama istriku, seketika fikiranku menjadi geram dan kotor tentangnya. Yang aku tahu dia dulu rajin ibadah dan tetap menghormati serta menyayangiku meskipun sholatku terkadang bolong-bolong. Tentunya dia sudah lebih dulu di surga, berjarak miliyaran tahun denganku, dan setelah melihat pemandangan tentang bapak, hatiku seketika bergejolak; aku jadi bertanya-tanya apa saja yang sudah istriku lakukan selama ini disini dalam periode waktu selama itu.

Lalu tanpa mengucap sepatahpun kata, aku melangkah mundur sambil menutup pintu perlahan. Kemudian berjalan kembali ke arah emak yang masih hanya diam, duduk tertunduk. Aku memeluknya erat, dan mulai mencoba ikut merasakan segala yang sedang beliau rasakan. Beberapa menit berlalu dan kami masih saling bisu. Disaat ini, aku tak ingin membisikinya tentang apapun, sebab aku tahu, beliau tentu lebih tahu tentang situasi yang ada disini.

***

Istana tempat tinggal seorang temanku yang semasa di dunia dulu terbiasa sholat malam. Ia mati saat jihad; melakukan bom bunuh diri di sebuah gereja membunuh puluhan orang dewasa dan anak-anak.

Demikianlah, akhirnya aku terangkat dari Neraka laknat dan menjadi penduduk Syurga yang penuh dengan berjuta nikmat. 
Masa awal disini, yang kulakukan adalah merombak sepenuhnya seisi istana juga seluruh area yang kutinggali. Dari istana yang awalnya bergaya Arab klasik dikelilingi gurun dengan oase-oase menyejukkan, kurubah menjadi kastil kuno bergaya Eropa dengan fasilitas modern. Dihalaman depan ada lapangan golf, garasi berbagai jenis mobil, sebuah kebun binatang yang berisi berbagai anakan hewan purba termasuk T-rex serta tempat bermain yang luas lengkap dengan wahana rollercoaster-nya yang selama di dunia dahulu hanya kulihat di negeri orang kafir.
Dihalaman samping kanan adalah lanscape pemandangan wisata pantai dan laut berombak dahsyat dengan suhu udara hangat cenderung panas tempatku berselancar, ohya,  kapal pesiar mewahku terparkir disitu. Halaman sebelah kiri kujadikan sebagai hutan kecil dengan bukit-pegunungan bersalju yang udaranya dingin membeku tempat aku berburu dan bermain ski layaknya orang-orang kaya di Bumi. Sementara halaman belakang kubuat seperti keadaan dipermukaan bulan yang warna tanahnya bertekstur kelam dan minim gravitasi, yang bila bosan, seluruh pemandangan ini akan segera kutata ulang dalam sekejap mata.... Tinggal Cling ! saja....

Istana temanku yang lain, yang semasa di dunia sholatnya enggak pernah bolong-bolong macam aku. Dia sedang di dalam, 'sibuk' dengan para bidadari pelayannya.

Dan yang tak kalah penting, 
disini... walaupun aku tenggelam berjam-jam digulung ombak besar saat berselancar.... jatuh terpelanting puluhan meter dan menghantam batu ketika bermain ski, atau mendapatkan luka tercabik / brodol parah karena cakaran harimau dan diseruduk badak sewaktu berburu, didalam surga ini aku tidak bisa mati. Aku abadi dan perkasa layaknya Dewa. 
Ya, namanya juga di surga, segala luka bisa sembuh dalam sekejap mata, 
Tinggal Cling! saja.
Terdengar absurd memang, tapi itulah kenyataannya, karena ini surga; semua hukumnya sudah template/baku dan suasananya bisa dirubah dengan mudah sesuai keinginan kita, suka-suka kita. Tidak makan seribu tahunpun kita tidak akan mati. Oleh sebab penduduk surga tidak mengenal sakit apalagi mati.

Kemudian aktifitasku lainnya hanyalah bergembira, bermain game, saling bersilaturahmi dengan penduduk surga, bercengkerama dengan hewan-hewan indah, bersafari ketempat-tempat menakjubkan, hingga yang paling menyita waktu adalah 'kesibukan' bercinta dengan para bidadari Syurga yang selalu perawan. 
Bagaimana tidak menyita waktu, bahkan ereksinya saja bisa sampai 70 tahun. Bisa dibayangkan... kalau ereksinya saja mampu selama itu apalagi durasi bercintanya. Dalam salah satu hadits hasan dikatakan bahwa dalam sehari seorang lelaki penduduk surga mampu bersetubuh hingga seratus kali.
 

***
Istana teman medsosku yang semasa di dunia dulu selalu rajin mengikuti demonstrasi membela agama

Namun begitulah, 
setelah bertrilun-triliun biliun milyar juta tahun disini, sisa-sisa sisi ke-manusiaanku mulai menyadari tentang adanya rasa ketidakpuasan yang tak pernah tercukupi, hawa kerakusan, kekosongan jiwa serta hal-hal semu yang mengusik
 
Seketika, aku merasa didamparkan disebuah dunia tanpa makna yang akhirnya mengkandaskan diriku dalam ketiadaan diri yang ekstrem.

Memang benar, disini kita boleh minta apa saja, tapi bukan berarti itu akan selalu dikabulkan, sebab tempat ini ternyata juga mempunyai hukum dan terikat dengan aturan tersendiri.

Seperti misalnya ketika aku meminta semanis Zack Efron, segagah David Beckam dan seganteng Tom Cruise namun dalam versi yang banyak bulu badan, minta itu dibolehkan tapi tidak dikabulkan. Karena sudah nash-nya, penduduk surga tidak berbulu

Atau ketika aku meminta wanita cinta pertamaku yang semasa didunia dahulu telah membuat hidupku tak menentu agar dijadikan isteri/budakku, itu dikabulkan tapi tentu saja kemudian kutahu bahwa yang dihadirkan adalah bidadari yang diserupakan dengannya, karena dia yang asli - yang  selalu membuatku bahagia hanya dengan memandang wajah dengan make-up sederhananya, yang dengan mudah mampu membuatku gila dan putusasa hanya dengan tingkah marahnya - pastinya juga sedang menjalani garis takdirnya sendiri. 

Atau ketika aku meminta anak-anakku dihadirkan dalam fisik 3 atau 4 tahun usianya; yang diumur itu segala apa yang dilakukannya (bahkan ketika mereka mengencingiku) bagiku adalah kebahagiaan semata, ini juga tak dimungkinkan. 

Atau ketika aku meminta dan diberikan gabungan antara mobil Pajero sport, VW, Mercy dan Ferrari, namun ketika telah dengan bangga aku membawanya berkeliling di kota Surga, lah aku masih kalah gengsi, sebab nyatanya tetanggaku malah punya mobil gabungan dari jenis Optimus Prime dan Megatron. Jadi semacam mobil truk keren yang bisa jadi robot dan bisa terbang macam jet tempur. 

Atau ketika aku meminta intan berlian - harta emas perhiasan mutiara yang berlimpah bergudang-gudang, itu memang dikabulkan. Tapi percuma saja karena benda-benda tersebut tak lagi berharga disini, sebab tidak ada lagi yang mau membeli karena semua orang juga bisa memilikinya tanpa perlu bersusah payah. 

Aku mempunyai dua istri dan puluhan wanita tercantik, tapi saat sampai pada satu titik tertentu, aku merasa itu belum cukup bagiku. Karena aku tahu masih ada bidadari yang lebih cantik dari yang tercantik di surga ini, namanya Ainul Mardhiah, dan sayangnya dia bukan diperuntukkan bagiku, karena dahulu aku bukan pejuang Islam yang mati syahid. Sehingganya, didalam surga ini, segala harapan dan penasaran terhadap Ainul Mardhiah tersebut hanya bisa kupendam dan menjadi keinginan yang tak pernah kesampaian.
 
Ilustrasi dek 'Ainul Mardiah

Singkatnya, karena ditempat ini tidak ada lagi kesulitan, tantangan atau persaingan maka otomatis tidak ada lagi yang namanya kepuasan apalagi kebanggaan. 
Yang pada akhirnya kehidupan kita hanya bermuara pada ketiadaan keinginan dan harapan, karena tidak ada lagi yang penting untuk diraih - tidak ada lagi yang layak diperjuangkan sebab semua yang kita butuhkan akan terwujud hanya dalam sekejab mata. Tinggal Cling! saja.
 
Terlebih jika teringat bagaimana dahulu saat pertama kali kita mencintai seorang gadis... 
Ketika itu ada rasa penasaran, kerinduan membuncah, kebingungan, debaran dalam dada, harapan mulia atas cintanya atau hasrat kotor yang takut akan dosa, serta berbagai rasa aneh yang nikmat menggoda. Disini, perasaan-perasaan itu sudah tidak ada lagi karena sekali kita menginginkan seorang perempuan, maka ia akan segera menanggalkan pakaian.
Ah brengseknya, 
akhir-akhir ini aku sangat merindukannya; kangen dengan perasaan-perasaan gila tersebut. Bagaimana ribetnya hati kita saat hasrat dan kehendak berkonflik dengan perasaan berdosa. Karena yang kuingat, hal-hal itu sedemikian nikmat.

Bahkan, memecah keperawanan para bidadari yang pada mulanya adalah suatu kenikmatan tak terperi, setelah bermilyar-milyar triliun biliun quadraliun juta tahun dan ku tahu akan terus selalu begitu karena ini berlaku selamanya - tak terbatas masa, alih-alih merupakan kenikmatan, bagiku hal itu kini malah lebih mirip sebuah siksaan abadi.

***

Hingga akhirnya tibalah aku disuatu masa ketika diri ini mampu mengadu di hadapan Tuhan dengan permintaanku yang paling ekstrim dan paripurna. Dimana kugadaikan seluruh jaminan keabadian dan terkabulnya segala keinginan hanya dengan satu permintaan itu.
 
*****
selanjutnya;

Komentar

Postingan populer dari blog ini

N E R A K A

B U M I