N E R A K A
Dan Bang !
Duniapun kiamat, hancur-leburlah semesta jagad raya. Bergejolak-menggelegak hingga tercabik - berkeping jadi serpihan beterbangan. Riuh tak karuan... Lalu kemudian hilang.... Hening, sunyi.
Alkisah,
setelah menjalani proses panjang interogasi akherat yang menegangkan
& lumayan bertele-tele karena memakan waktu ribuan tahun lamanya,
persis seperti dugaan teman semua yang terbiasa membaca buah-buah dari Pemikiranku,
akhirnya akupun dihempaskan secara hina ke jurang NERAKA atas dakwaan
melakukan tindakan makar terhadap beberapa ketetapan agama.
Vonis
yang dijatuhkanpun tak main-main, seratus juta milyard tahun menjalani
beribu macam siksaan nyaris tanpa jeda dan tanpa kejelasan kapan akan
berkesudahan.
Sangat lama memang, seratus juta
milyar tahun adalah jangka masa yang mustahil terbayangkan oleh siapapun
juga, bahkan tak sebanding dengan umur bumi yang menurut data agama
cuma sampai pada ribuan tahun saja, terlebih lagi jika dibandingkan
dengan masa usia hidupku didunia yang tak genap (seingatku) seratus
tahun.
Tetapi demikianlah (konon) yang telah menjadi kehendakNya.
Direbus, digantung, dipancung, disembelih dikoyak-koyak, dicabik, digergaji
dan pulih kembali, kemudian disiksa lagi dengan metode yang sama atau
dengan tekhnik-tekhnik siksaan tambahan berikutnya. Demikianlah siklus
tersebut terus terjadi tanpa henti.
Benar,
adakalanya siksaan memang dijeda, namun itu bukan sebuah keringanan.
Melainkan satu bentuk siksaan psikologis bagi kami, sebab disaat
demikian kami akan bergetar ketakutan memikirkan apa yang akan datang/terjadi
kemudian.
Meski begitu, faktanya aku masih
jauh lebih beruntung ketimbang beberapa kalangan manusia-manusia lain
yang nyatanya malah benar-benar bangkrut. Sebab, walaupun ketika di
dunia mereka telah banyak berbuat baik; melakukan berbagai hal yang
mulia terhadap sesama manusia tanpa memandang agamanya, atau menciptakan
berbagai alat yang bermanfaat bahkan juga untuk jutaan kaum muslimin _
tetapi tetap saja mereka masuk neraka & kekal disiksa didalamnya
hanya karena mereka tidak menyembah Tuhan dengan cara-cara Islam.
Selain
atas alasan tersebut walau hanya terbersit kecil sekali, aku juga
merasa masih punya harapan bisa enyah dari tempat celaka ini satu saat
nanti, mengingat dahulu sewaktu di dunia hingga ajal, aku tetap memilih
Islam sebagai jalan yang kuyakini paling ideal bagiku dalam menuju
keridlaanNya, bersyahadat dengan tauhid tanpa menduakan Allah dan
mengakui kenabian Muhammad, meski..... memang ada beberapa dari ajaran
beliau yang secara sengaja aku abaikan atau kutolak.
Sebuah harapan yang perlahan seakan memudar oleh lambatnya waktu berjalan.
Tentang
Nabi Muhammad pribadi, dalam keyakinanku beliau memanglah figur
yang luarbiasa, visioner sekaligus revolusioner sejati, panutan dalam
banyak hal dan salah satu pemain utama dalam pentas sejarah peradaban umat manusia
yang (akan tetapi) pada kenyataannya beliau juga (tetap hanya) manusia yang
tidak mungkin steril dari khilaf & kesalahan. Dalam pandanganku,
Rasululloh saw; terlepas dari segala kelebihan serta kekurangannya
tersebut sebenarnya sekedar menjalani jalan takdir yang mesti beliau
jalani. Muhammad adalah seorang manusia hebat yang bertindak sesuai
nilai-nilai dan standar moral pada jamannya. Beliau mengasihi dikala
memang perlu mengasihi. Beliau menghabisi tatkala itu penting dari segi
politik, ekonomi dan demi eksistensi. Para pengagumnya-lah _karena
tujuan duniawi tertentu_ yang kemudian terlalu melebih-lebihkan sosok
beliau hingga ketingkat manusia sempurna nir-cela dengan mengabaikan
berbagai fakta yang ada. Dengan mengabaikan sama sekali sisi kemanusiaan
beliau dan menutup mata terhadap berbagai kontradiksi yang terjadi.
Dalam
pemikiranku, tidaklah mungkin manusia berbudi sempurna mampu begitu mengasihi
dan disaat yang sama tega melakukan berbagai kekejaman. Tidaklah mungkin
makhluk dengan akhlaq paripurna panutan sepanjang jaman membenarkan
perompakan sekalipun bermotif balas dendam, perbudakan serta serangan-serangan kepada pihak lain dengan
alasan perbedaan keyakinan. Tidaklah mungkin seorang manusia paling
utama mengancam kita dengan hukuman luarbiasa hanya karena menggambar makhluk yang bernyawa.
Bagiku, meyakini "kesempurnaan dari versi kebenaran ini" malah seperti
mendandani sebuah rumah tua yang rapuh dengan cat warna-warni nan indah.
Kelihatannya bagus tapi sebenarnya tetap saja reot.
Tapi
dengan begini apakah aku membenci Muhammad Saw? Tentu saja tidak.
Sepanjang hidup, aku malah seorang pengagum beliau sang manusia biasa
dengan pencapaian istimewa sehingga pantas di akui sebagai insan
digdaya. Yang kulakukan, aku hanya memandang beliau sebatas sebagaimana
adanya seorang manusia; yakni dengan kelebihan luarbiasa, berikut
kekurangannya.
Dan inilah dosa terbesarku,
Aku
percaya Allah maha sempurna, namun segala yang telah melalui manusia,
sulit bagiku untuk menganggapnya sempurna, termasuk juga Muhammad dan
Islam yang beliau bawa; oleh sebab semua ini sampai kepadaku nyatanya
hanya melalui katanya-katanya. Melalui kisah turun-temurun berjarak
ribuan tahun yang disampaikan (sebagian besar) oleh orang-orang yang
layak diragukan kredibilitasnya karena terbukti banyak hal yang mereka sampaikan berbeda atau bahkan bertentangan dengan yang dikisahkan oleh para sejarahwan. Tentu ini akan berbeda sekali
seandainya Allah sendiri yang turun langsung ke Bumi menyampaikan versi
kebenaran yang Dia ingini. Keengganan Tuhan untuk berbuat
demikian, akhirnya kupahami sebagai pertanda bahwa Kebenaran memiliki
banyak arti dan berbagai cara tersendiri. Bahwa kebenaran memang
memiliki banyak jalan dan tak pernah tunggal.
***
Nerakaku,
adalah siksaan demi siksaan yang silih berganti tak terperi,
bertubi-tubi, hingga seringkali membuatku abai dengan waktu dan hari.
Disini, ribuan macam metode serta jenis penganiayaan digunakan demi
memastikan tak seorangpun bakal jemu dengan siksaan yang itu-itu melulu.
Sesaat-sesekali
terlintas dalam benakku, ingatan tentang Emak, Bapak, Istri serta anak
cucuku yang dahulu selalu lucu, kini seperti tersenyum mencibir,
menjelma sebagai sepaket bonus siksaan tambahan bagiku, yang kemudian
hati ini menjadi hampa seketika saat kusadari bahwa kini mereka sedang
bahagia; tertawa-tawa di Surga. Ini kuyakini dengan pengetahuan karena
dahulu sewaktu didunia mereka semua menjalankan Islam seperti yang
diperintahkan oleh para agamawan.
Lalu dalam sekejap semua anganku sirna...
Kosong.
Tinggal
sesal dan kepedihan meraja yang dibalut kekaguman luarbiasa kepada para
zabaniyah yang bekerja tak kenal lelah. Entahlah, terbuat dari apa
mereka sebenarnya sehingga bisa sedemikian kejamnya.... Yang aku tahu,
Iblis ataupun manusia paling bengis sekalipun tidak akan pernah mampu berbuat
sesadis ini.
Dan
demikianlah segalanya berlangsung, tak tahu pasti telah berapa juta
tahun lamanya raga ini dianiaya aku tak lagi cukup mampu memahami, sama
seperti ketidak mengertianku tentang kenapa Tuhan yang katanya maha
pengasih dan maha penyayang memilih untuk membalas yang hanya puluhan
tahun dosaku dengan balasan yang teramat timpang. Apa pentinganya ini
bagi Dia? Atau apakah ini sungguh-sungguh menyenangkanNya? Bila demikian
adanya, bolehkah kita bertanya apakah Dia sebenarnya hanyalah Dzat
pemurka yang gila menyiksa?!
Jujur, dulu sewaktu di dunia aku sering bertanya apakah yang didefiniskan oleh neraka, sungguhkah seperti itu yang diinginkanNya, atau semua hanya prasangka alias hasil salah tafsir dari para agamawan saja? Saat ini disini, pertanyan demikian seketika menjadi tidak relevan lagi untuk ditanyakan.
Hancur-remuk terajam tubuhku, utuh kembali tanpa bisa mati.
Seiring masa, makin jelas saja jerit ketakutan dan lolong kepedihan menyesaki udara.
Subhanallah,
dan aku anehnya tetap saja memuji DIA; Tuhan Sang Maha Pengasih dan
Maha Penyayang yang nyatanya telah mampu menciptakan sebuah tempat
dengan kengerian paripurna bernama Neraka.
***
Saat-saat terasa lambat melesat.
Setelah
beberapa milyar tahun berikutnya dikala aku mulai berputus asa karena
pengampunan yang tak jua datang, akhirnya aku memilih untuk mencoba
belajar membiasakan diri dengan semua ini. Menghitung berapa kali
pukulan, berapa kali cabikan serta berapa kali siraman timah mendidih
disetiap harinya dan seperti apa aroma hasil pembakarannya. Tentu saja
tidaklah mudah, tapi tak ada salahnya juga dicoba, siapa tahu bisa
sedikit melenakanku dari situasi yang tragis ini. Aku belajar mengamati,
apalagi setelah binatang-binatang mengerikan atau setelah cangkul,
celurit, palu, gergaji dan berbagai peralatan besi. Apalagi setelah
bongkahan batu yang beterbangan merajam raga dan melumatkan hati.
Dan
benar saja, tanpa kuduga, setelah kira-kira seribu milyar tahun
menderita, aku mulai menghafal berbagai peristiwanya dan bahkan mulai
terbiasa dengan segala kengeriannya.
Setelah ku
renungi, aku memahami bahwa tak seharusnya aku terkejut lagi dengan
kedatanganya; wajah-wajah para makhluk penjaga neraka yang sangar
memuakkan itu.
Setiap waktu kini aku belajar beradaptasi dan
bersosialisasi dengan berbagai lapisan penduduk neraka. Menikmati
banyolan sarat makna dari Gus Dur di hari-hari tertentu. Menyimak
petuah-petuah bijak penuh motivasi Buya Syafi'i Maarif pada masa
setelahnya. Atau mendengarkan obrolan kedua panutanku itu yang
renyah-ringan namun padat berisi sembari menyaksikan 'konser' Adele dan
Agnes Monica yang tentu saja digelar berselimut api membara yang
panasnya ratusan kali dari panasnya api di Bumi. Lalu diwaktu lainnya aku
bergosip dengan tetangga-tetangga neraka tentang mereka; para zabaniyah
yang semakin kreatif dan begitu teliti mengerjai jiwa raga kami. Tentang
seragam khas yang konyol dan seluruh kelakuan laknatnya, juga tentang
parasnya yang Masyaallah, buruk parah !
Lucunya, mereka
tak tersinggung kukatai begitu, hanya terus tekun bekerja dengan segenap
profesionalismenya. Ya, menurutku itu wajar saja dan aku bisa mengerti,
sebab mereka sebenarnya memang cuma sekelompok robot tak berjiwa yang sejatinya hanya punya sebuah program sederhana; yakni Menyiksa.
Semakin
kurenungi, semua yang kualami ini ternyata hanya seperti tai, berbau
tak tertahankan pada awalnya namun lama-lama terbiasa juga. Atau seperti
tengiknya - busuk aroma
balem (bongkahan) karet berikut comberannya yang dahsyat pada mulanya,
tapi kian lama akhirnya hidung kita akan terbiasa atau malah
menikmatinya.
Hanya sekedar itu.
***
Gila!
Tiba-tiba aku bertanya benarkah aku benar-benar telah terbiasa atau aku
sebenarnya sudah menjadi gila..? Ya Allah, kenapa aku jadi tak mengerti
lagi dengan situasi ini? Apakah aku sungguh sangat menderita hingga
begitu mengharap datangnya gila agar dengan begitu segera berkurang
beban siksaku? Atau apakah aku memang telah berdamai dengan segalanya?
Disaat-saat
demikianlah, dikala hatiku telah dikuasai oleh kebingunan-kebingungan
masif dengan pengaruhnya yang maha daya, tiba-tiba sebuah energi yang
sangat besar datang merenggut ragaku, melemparnya ke udara dan membuatku
seperti terbang melayang, sampai akhirnya aku jatuh terkapar di atas
hamparan debu pasir dengan aroma berbeda....
***
"Dimana ini? Apakah aku sudah diampuni?"
Tanyaku
pada malaikat disampingku yang memiliki mimik wajah aneh, tak tampak
sangar macam penjaga neraka, tapi tak juga ramah layaknya pelayan surga.
"Benarkah ini bau surga, tuan...?"
Tanyaku lagi, berusaha menarik perhatiannya.
"Sebenarnya
kamu bahkan belum melewati separuh dari masa hukumanmu. Namun ada
kehendak lain yang lebih kuat dan menyebabkan rahmat Allah turun lebih
cepat bagimu. Ini adalah wilayah netral.
Neraka telah jauh dibelakang, bersyukurlah kamu.."
Malaikat
itu menyahut sembari teguh mematung dengan wajahnya yang masih menatap
kekejauhan. Ujung-ujung jubahnya yang longgar-berkibar begitu lembut
menyapu tubuh telanjangku yang masih lemah seperti sedang menjilati
luka-luka bakar disekujur raga ini.
Perbatasan antara surga dan neraka.
itulah
yang kemudian kuyakini dari tempat dimana aku berada sekarang. Sebab jauh
dibelakang, yang tampak adalah kepulan asap hitam dan cahaya kemerahan. Sementara didepan sana, tampak sebaris
pagar tembok berwarna putih berkilau laksana perak, menjulang dan melintang
sejauh mata
memandang yang tampak samar berselimut kabut tipis dibagian muka namun
penuh dengan cahaya indah disisi berikutnya, aneka warna menyala bak aurora.
Ada
angin dingin nun syahdu beraroma wangi kesturi menghembus
pelan tubuhku dari arah depan. Hembusan udara kehidupan yang perlahan
laksana mereduksi luka dan pedih disekujur badan.
Hatiku bergetar, meringis - merintih sembari terus mengucap terimakasih.
"Alhamdulillah,
subhanallah.." Aku memekik tertahan seiring rasa sakit yang beraduk
dengan bahagia. Kalimat puji-pujian tak henti kupersembahkan kepada Dia
yang kini telah bermurah hati. Bedanya, sekarang aku mengucapkannya
dengan begitu tulus, penuh kerendahan serta rasa haru nan dalam.
"Wahai tuan malaekat, tapi kehendak apakah itu yang menyebabkan turunnya rahmat Allah demikian cepat?".
"Entah, cari tahu sajalah sendiri olehmu. Sekarang mari pergi kesana, kemana wajahmu sekarang memandang...".
Selesai
dengan kalimatnya itu, sosok sang malaekat tiba-tiba membias buyar. Sebagai gantinya kini munculah sebentuk gumpalan seperti awan yang
bergerak kuat menggulung tubuhku, mengangkat dan membawaku jauh melesat.
Dan meski tujuan telah tampak dimata, namun nyatanya ini tetap saja
perjalanan yang berlangsung lama. Butuh berpuluh tahun untuk sampai
disana.
Setelah tiba, aku
menarik nafas & mulai berjalan tertatih meninggalkan kendaraan berbentuk gelombang awan yang kini kian memudar.
Dalam hati, aku semakin yakin kemana aku kini sedang menuju, sebab makin dekat
aku pada pagar itu, yang kurasa staminaku kian prima, sekujur kulit badan yang tadinya legam hangus
terbakar penuh korengan, perlahan mengelupas - rontok digantikan kulit baru yang lebih bersih dan segar.
Melangkah kian dekat, akupun mantap penuh
kepercayaan diri bersama ratusan orang lainnya yang juga telah menggenapi
masa hukumannya; melintasi pintu gerbang Surga.
*****
Catatan;
Gus Dur dan Buya Syafi'i Maarif masuk neraka bukanlah tuduhan hamba,
melainkan keyakinan kaum Islamis radikal - picik fanatik yang banyak beredar
di media sosial. Hal demikian bisa jadi berangkat dari kebiasaan kedua
tokoh tersebut yang sangat konsen - peduli pada hak-hak kelompok agama
minoritas, anti fundamentalisme agama, dan terbiasa berbicara tentang
(sejarah) Islam secara apa adanya/blak-blakan.
selanjutnya;










Komentar
Posting Komentar